MUDIK Edisi 6| Salam Mudik | Forum Kita | Editorial | Opini | Sajian Utama | Sajian Utama2 || Kunjung Kampung | Kunjung Kampung2 | Tokoh Kita | Dialog Wong Cilik | Resensi Buku | | Kolom Demokrasi Desa | Berita Desa | Berita Desa2 | Tokoh KitaMarhaeni, Pedagang Hasil Bumi:
|
| M | : | Bagaimana ceritanya, ibu bisa menjadi pedagang hasil bumi produk dari petani setempat ? |
| E | : | Sejak menikah tahun 1987, saya pindah dari desa Jatipuro ke desa Setrorejo ini mengikuti suami. Semula saya hanya ibu rumah tangga yang mengandalkan gaji suami saya sebagai guru desa. Namun seperti pada umumnya orang desa, biaya untuk kebutuhan rumah tangga tidak terlalu besar yang penting bisa makan, itupun saya tidak musti beli kepasar, karena bisa metik hasil pekarangan atau lahan saya yang tidak seberapa. Biaya yang musti saya keluarkan besar pada biaya-biaya sosial yakni jagong, arisan, dll. Biaya ini tidak bisa dihindari untuk menjaga persaudaraan dan hubungan baik, karena kalau tidak masyarakat menganggap saya sekeluarga tidak “lumrah” (wajar-red). Apalagi kalau dapat undangan jagong tetangga, wah saya sekeluarga dari bapak, ibu dan anak-anak harus nyumbang sendiri-sendiri. Bisa bayangkan kalau bulan baik (menurut tahun Jawa-red), sebulan kami bisa dapat lebih dari 5 undangan. Bisa lebih dari Rp. 300 rb kami mengeluarkan uang untuk itu. Padahal gaji suami saya sebagai guru sangat kecil. Hal inilah yang mendorong saya berusaha bekerja, tapi kok lahan kami kecil, dan ketrampilan saya sebagai petani masih rendah. |
| M | : | Mengapa pilihannya menjadi pedagang hasil bumi ? |
| E | : | Pertama saya melihat hasil bumi di sekitar sini sangat beragam, sehingga kemungkinan kalau saya menjadi pedagang bisa beragam barang yang saya jual. Kedua, saya melihat penduduk disini kesulitan kalau menjual hasil bumi karena pasar jauh dan jarang ada pedagang yang mau masuk ke desa, karena transportasinya mahal, tidak sebanding dengan barang yang akan dijual. Petani akan jual simpanannya kalau membutuhkan uang segera, dan itupun tidak banyak. Petani biasanya menabung berupa hasil panen misalnya gabah, kacang, jagung, dll. |
| M | : | Jenis apa saja yang biasanya diperdagangkan ? |
| E | : | Ya jenis hasil bumi yang diproduksi sekitar wilayah ini yakni beras, kedelai, jagung, gaplek dan kacang tanah. Tapi produk yang paling besar yang sering saya beli dari petani adalah beras, itupun jenisnya sangat banyak. Ada beras yang biasa dimakan juga beras merah dan beras ketan. Masing-masing mempunyai pangsa pasar berbeda. Saya juga melayani konsumen langsung namun juga sering dibeli para pedagang dari wilayah atau kota lain sampai Solo, Boyolali dan Sukohardjo. Mereka semula saya tawari, namun lama-lama mereka datang ke rumah saya ini. Transaksi saya minimal 3 hari sekali. Sekarang ada beberapa konsumen yang sering pesan beras ke saya yang tanpa bahan kimia (Beras organic-red), karena mereka tahu kelompok saya ini penghasil beras tanpa pestisida dan sedikit pupuk kimia. Harganya juga lebih baik |
| M | : | Apa kesulitan yang dihadapi saat menjadi pedagang dulu dengan sekarang ? |
| E | : | Wah sekarang lebih sulit, karena sekarang jamannya pasar bebas. Banyak kegiatan yang sering mengancam usaha dagang saya misalnya program Raskin (beras bagi rakyat miskin), harga beras dari petani jadi murah, saya jadi sering tidak enak dengan tetangga karena saya harus beli dengan harga yang lebih rendah juga. Selain itu sering petani kesulitan dengan modal untuk tanam apa beli pupuk, mereka pinjam uang untuk itu dan sebagai bayarnya mereka akan serahkan gabah ke saya setelah panen. Harga yang saya pakai ya harga jual, sama dengan harga gabah petani yang tidak pinjam, khan ini niatnya hanya menolong, tidak untuk cari untung. Kesulitan yang paling sering kalau ada pembeli yang “ngemplang” (tidak bayar-red), alasannya rugilah atau harga turun, dll. Saya jadi ikut nanggung karena modal saya ikut. |
| M | : | Bagaimana ibu menanggapi kebijakan beras impor saat ini ?. |
| E | : | Wah inilah yang saya tambah bingung, pemerin-tah ini bagaimana ya ngurus petani, jelas petani kita bisa produksi beras cukup kok malah impor. Ya jelas saya bisa pastikan harga beras akan anjlog, karena pengalaman sebelumnya kalau ada beras impor masuk ke pasar lokal, harga beras petani sini jadi murah. Kok bisa ya beras impor itu murah, khan biaya produksi saya kira sama, mereka harus tambah ongkos kirim lagi, apalagi saya dengar beras yang dikirim kesini kata-nya dari Amerika dan Thailand, jadi pasti mahal ongkosnya. Apa karena petani disana disubsidi ya oleh Negara, sehingga petaninya bisa tetap untung meskipun harga beras murah. Kapan ya petani kita bisa makmur kayak petani disana ? |
| M | : | Bagaimana caranya ibu bisa untung dari jual hasil bumi ini ? |
| E | : | Kalau mau dagang kayak saya ini, modalnya hanya kuat fisik dan paham kualitas barang. Kalau beras, saya biasanya beli gabah kering simpan, lalu saya jual bentuk beras, setelah saya jemur dan digilingkan. Saya kumpulkan dari petani yang akan jual gabahnya, dengan harga sama dengan pasar. Saya juga jujur sama petani tentang harga, sehingga mereka suka jual hasilnya ke saya karena tidak perlu repot dibawa kepasar. Kalau kurang jumlahnya, saya ke pasar-pasar sekitar sini membeli dari pengumpul, saya sortir dulu yang baik dan bernas. Keuntungan jual beras per kilonya sekitar Rp. 100 s/d Rp. 150 per kilo. Saya per minggu selalu kirim sekitar 2,5 kwintal hingga 1,8 ton. Musim kemarin ketika harga beras tinggi, dan tidak ada beras impor, saya dan petani sekitar sini untung besar, karena pada umumnya kami punya simpanan gabah kering, kalau jual gabah paling hanya Rp. 1.600 saja. Dan ketika harga beras sampai Rp. 3,800 banyak gabah langsung dijual menjadi beras. Ini sejarah petani beras untung, ya mungkin memang hanya sekali itu saja. Sedangkan hasil bumi lainnya seperti kacang tanah, kedelai, jagung apa gaplek sangat tergantung musimnya. Tapi selalu saya beli ketika petani pada panen (karena umumnya mereka segera butuh uang), saya simpan, baru saya jual ketika langka di pa-saran. Itupun saya harus ektra tenaga, misalnya ngupas kulit, jemur ataupun membersihkan dan sortir sesuai kualitasnya. Untung saya sebenar-nya tidak banyak kadang-kadang per kilo hanya sekitar Rp. 50 rupiah, tapi kalau kacang tanah bisa tinggi sekitar Rp. 3000 per kilo. |
| M | : | Bagaimana dan darimana ibu mendapatkan modal jualan hasil bumi ini ? |
| E | : | Saya pakai modal sendiri yang saya kumpulkan dagang sedikit demi sedikit. Saya tidak dapat kredit dari manapun. Desa juga tidak punya program memberikan peningkatan kayak petani dan pedagang seperti saya ini. Syukurlah sekarang ada kelompok tani yang bernama, Paguyuban Lereng Selonjono (PLS), yang punya kegiatan pertanian berkelanjutan dan ada dana untuk meminjami petani untuk modal. Banyak petani yang pinjam kesana. Saya juga salah satu pengurus di PLS. |
| M | : | Sebagai warga desa, bagaimana menurut ibu pembangunan desa itu ?, apa yang dicita-citakan tentang desa ? |
| E | : | Sekarang ini hidup di desa tambah susah, apa-apa mahal, padahal untuk cari pendapatan di desa sangat sulit. Sekolah mahal, berobat susah. Makanya anak muda disini kalau sudah lulus sekolah (SMP apa SMA) pasti kerja di Jakarta atau kota besar lain, karena didesa ya mau kerja apa. Banyak orang tua juga tidak ingin anaknya jadi petani karena kehidupan petani di desa sungguh sulit. Pemerintah tidak mempunyai perhatian pada petani, apalagi kok mendorong pe-tani maju. Pemerintah desa sini sekarang lumayan, karena ada petani yang jadi anggota BPD, jadi pak kades mau tidak mau sering juga dilibatkan dalam kegiatan PLS atau pertanian lainnya. Sekarang ini kondisi desa sebenarnya tidak jauh beda dengan yang dulu, walaupun pembangunan banyak dilakukan di desa, buktinya kesejahteraan masyarakat desa tidak berubah, malah banyak yang tambah miskin. |
| M | : | Apa gagasan ibu supaya desa bisa maju dan mensejahterakan rakyatnya ? |
| E | : | Ya usul saya pemerintah memberikan perhatian lebih pada petani, khan penduduk yang tinggal di desa itu hampir sebagian besar hidupnya tergantung pertanian. Jadi petani harus disubsidi, diberi kredit, diberi kemudahan menjual produknya atau kalau perlu ada program agar petani tambah pinter, tambah wawasan sehingga usaha taninya maju. Kalau petani maju, pembangunan desa itu pasti akan cepat berkembang. Sekarang ini pe-tani dianggap tidak ikut memikirkan pembangun-an desa, lha wong mikir besok mau makan saja susah. |

