Thursday. March 11. 2010
  HOME Berita Desa Link Bulletin MUDIK Download Kontak Kami
Menu Utama
Tentang FPPD
Buku Terbitan FPPD
Bulletin MUDIK


 

MUDIK Edisi 6

| Salam Mudik | Forum Kita | Editorial | Opini | Sajian Utama | Sajian Utama2 |
| Kunjung Kampung | Kunjung Kampung2 | Tokoh Kita | Dialog Wong Cilik | Resensi Buku |
| Kolom Demokrasi Desa | Berita Desa | Berita Desa2 |

Kunjung Kampung

Tanah 1 Hektar Ditukar Dengan Beras 82,5 Kg
(sebuah tantangan)

Oleh : Warno Hadi Winarno (World Education)

Desa Muara Dua Kecamatan Seruyan Hilir kabupaten Seruyan Kalteng (Kalimantan Tengah) adalah sebuah desa terpencil di bantaran sungai Seruyan. Sungai yang lebarnya 218 m (saat pasang) dan 100 m (saat surut) membelah desa yang terdiri dari 3 dusun, 116 KK dan 464 jiwa. Mereka tinggal di tepi sungai ini secara turun temurun dan dengan kearifannya mengelola sumber daya alam secara lestari. Ikan air tawar merupakan penghasilan pokok, oleh karena itu sungai menjadi urat nadi bagi kehidupan warga. Kehidupan mereka selama ini mulai harmonis sejak deru mesim penebang kayu dan hilir mudik tongkang pengangkut log tidak lagi terdengar. Alat-alat pemerkosa alam itu telah pergi bersama habisnya kayu sekitar desa. Namun ketentraman warga desa akhir-akhir ini kembali terusik. Kalau dulu oleh penebang-penebang kayu sekarang oleh perkebunan sawit yang siap mencaplok lahan mereka dengan ganti rugi Rp. 425.000,- per ha.

Kunjung kampung Mudik kali ini sengaja dilakukan bersamaan dengan monitoring program TPICDP (Tanjung Putting Integrated Conservation and Development Project) di desa-desa dampingan WE (World Education) berada di sekitar Taman Nasional Tanjung Putting pelaku Kunjung Kampung bergabung dengan WE. WE mengangkat isu ketahanan pangan dan bersama masyarakat melakukan pembelajaran untuk mengelola sumberdaya alam secara lestari berkelanjutan.

Perjalanan dimulai dari Pangkalan Bun, Ibu Kota Kabupaten Kota Waringin Barat Kalteng menuju Kecamatan Pembuang Hulu Kabupaten Seruyan butuh waktu 3 (tiga) jam lebih dengan kondisi jalan 40% aspal hancur. Satu-satunya sarana transportasi menuju desa sasaran adalah transportasi air, dengan kendaraan bisa long boat butuh waktu 6 (enam) jam atau speed boat butuh waktu 3 jam.

Sepanjang perjalan di atas sungai yang airnya coklat, tampak jelas sisa-sisa kejayaan Bumi Borneo yang kaya akan hasil hutan kayu. Beberapa sisa kebakaran kayu berdiameter lebih dari 1 meter sering dijumpai dan bekas barak-barak tempat pengolahan kayu yang sudah kosong ditinggalkan penghuninya juga tidak luput dari pemandangan. Sopir speed boat yang bia-sa melaju dengan kecepatan tinggi sering kami ingatkan agar mengurangi kecepatannya karena riakan air speed boat kami cukup besar sehingga mengganggu para pencari ikan di pinggir sungai. Beberapa pondok-pondok petani ladang termasuk penghuninya kadang terlihat dan dengan ramahnya mereka melambaikan tangan sebagai ucapan salam kepada kami. Menjelang Ashar (lebih kurang jam 15.00) kami tiba di desa Muara Dua dan kebetulan staff lapangan WE sedang ngobrol dengan Pembekal (sebutan Kepala Desa). Beberapa warga berpapasan dengan kami, mereka baru saja menyelesaikan gotong royong membuat POS (tempat tinggal staff WE) di pinggir sungai. Adalah Bp. Kasim Low, staf WE yang memfasilitasi warga desa untuk sama-sama belajar mengelola alam secara lestari dan berkelanjutan sehingga tekanan Taman Nasional Tanjung Puting dari masyarakat akibat terdesak kebutuhan pangan dapat diminimalisir.

Sungai Sebagai Lumbung Pangan
Pak Jemari Pembekal Desa Muara Dua mengisahkan begitu runut bagaimana pola kehidupan masyarakatnya sejak jaman nenek moyang hinggga saat ini. Pembekal yang dipilih secara langsung oleh warganya empat tahun lalu ini mengisahkan bahwa “sungai adalah urat nadi kehidupan”. Warga memanfaatkan sungai sebagai sarana transportasi, sumber penghasilan sehari-hari, sebagai tempat MCK, sumber air minum, pendek kata warga tidak mungkin dapat hidup tanpa sungai ini. Lebih dari 50 spesies jenis ikan hidup di Sungai Seruyan dan warga memanfaatkannya secara arif. Kearifan itu tampak sekali dalam praktek penangkapan ikan. Alat penangkap ikan mulai dari jala sampai dengan bubu semuanya dibuat dengan ukuran tertentu dengan maksud ikan yang ditangkap hanya yang besar-besar saja sementara ikan kecil dibiarkan tetap hidup. De-ngan demikian sumber daya ikan akan terus tersedia meskipun setiap hari tidak kurang dari 1 ton ikan segar ditangkap oleh masyarakat.

Ikan merupakan penghasilan utama dan nyaris tidak ada penghasilan lain selain dari ikan. Apabila mereka pergi ke hutan untuk mencari kayu, rotan atau hasil hutan lainnya tidak untuk dijual, melainkan untuk kebutuhan rumah tangga. Harga ikan paling murah Rp. 5.000,- per kg, dan ada jenis-jenis tertentu; seperti ikan patin, udang, toman, arwana dan jenis tertentu lainnya, harga per kg bisa lebih dari Rp. 50.000,-. Pada musim paceklik ikan, pendapatan mereka paling sedikit 5 kg per hari, tetapi pada musim banyak ikan pendapatan mereka bisa mencapai kwintalan per hari. Hasil tangkapan ikan selain untuk kebutuhan konsumsi pokok keluarga juga dijual untuk ditukarkan dengan kebutuhan pokok lainnya seperti; beras, pakaian, kebutuhan rumah tangga termasuk kebutuhan barang mewah; TV, VCD, Antena Parabola, Spring Bed, perabotan rumah tangga dan juga untuk kebutuhan biaya sekolah anak-anaknya. Desa Muara Dua masyarakatnya dapat hidup makmur dengan mengandalkan pengelolaan sumber daya alam terutama ikan segar air tawar di alam bebas.

Lestarikan Alam, Jangan Serakah!
Trauma masyarakat atas tindakan para ekplorator hasil hutan khususnya hasil hutan kayu belum hilang sepenuhnya. Sisa-sisa ketakutan masih sering muncul dan diekspresikan dengan kehati-hatian terhadap para pendatang yang belum jelas asal-usal dan tujuannya. Sebetulnya mereka sangat terbuka mau bekerja sama dengan siapapun asal tujuannya jelas dan tidak merusak lingkungan. WE yang baru masuk awal tahun 2006 sudah mampu bersatu dengan masyarakat, belajar bersama masyarakat untuk mencetak sawah baru, memijahkan, membuat kolam-kolam pemijahan ikan dan mendiskusikan hal-hal berkaitan dengan kelangsungan hidup generasi mendatang. Sebagai warga yang sa- ngat bergantung pada kekayaan alam, masyarakat desa Muara Dua dan desa-desa sekitarnya berjuang keras untuk menjaga alam agar tetap lestari.

Namun toh begitu, gelombang globalisasi yang diperkuat dengan pilar-pilar kapitalistik akhir-akhir ini sudah mulai merambah ke desa yang sebetulnya sangat sulit dijangkau dengan transportasi apapun. Perkebunan kelapa sawit rupanya menjadi trend di bumi Borneo. Para pemegang ijin konsensi HPH (Hak Pengelolaan Hutan) tidak tertarik lagi untuk mereboisasi lahan yang pernah mereka acak-acak dan kini tinggal sisa-sisa berupa padang ilalang dan semak belukar. Entah dengan baju baru atau sekedar menganti baju lama para investor itu kembali menjadi momok bagi warga desa untuk menancapkan kukunya lagi berupa penanaman sawit di lahan sekitar desa.

Beberapa desa tetangga Muara Dua sudah ada yang melepas tanahnya dan sekarang sudah habis dikuasai oleh perusahaan sawit dengan harga Rp. 425.000,- per ha. Nilai ganti rugi tersebut hanya cukup untuk membeli beras sebanyak 82,5 kg karena di Muara Dua dan sekitarnya harga beras Rp. 5.000,- per kg. Perusahaan kelapa sawit tersebut terus melakukan provokasi secara sistematis dengan sejuta janji-janji manis kepada masyarakat. Yang lebih mengherankan lagi promosi sawit ini mendapat dukungan dari eksekutif maupun legislatif setempat. Para birokrat tersebut ikut promosi sampai ke desa-desa agar masyarakat mau melepaskan lahannya karena perkebunan kelapa sawit akan menyerap tenaga kerja lokal sehingga warga bisa bekerja sebagai kar-yawan. Desa Muara Dua yang diuntungkan secara geografis karena berada di bagian hilir dari lahan-lahan sasaran sawit tak henti-hentinya mendapat tekanan dari pihak-pihak yang pro terhadap tanaman sawit.

Menghadapi situasi demikian Pembekal Desa Muara Dua dan warganya tetap bertahan tidak mau melepas lahannya seperti desa tetangga yang sudah terlanjur melepaskan lahannya. Mereka selalu mengangkat isu sawit ini di dalam pertemuan formal maupun informal sehingga menimbulkan pemahaman bersama tentang untung ruginya sawit, mereka menjadi kompak untuk melakukan penolakan terhadap proyek sawit di lahan warisan nenek moyang mereka. Timbulnya sikap kritis warga Muara Dua juga diikuti oleh Desa Baung, Desa Palingko, Desa Tanjung Hanao dan beberapa desa lainnya. Warga desa yang sudah terlanjut menjual tanahnya ke perusahaan sawit belum terlalu banyak, tetapi tanah yang dijual itu berbatasan langsung dengan desa-desa yang tidak bersedia tanahnya dijual sehingga potensi konflik antara warga dan antar desa sangat besar peluangnya.

Usaha-usaha lobi mulai dari tingkat Camat, Bupati, Partai-Partai, Gubernur, LSM dan beberapa individu yang mereka pandang mempunyai kepedulian terhadap nasib mereka sudah ditempuh, tetapi hasilnya tetap saja belum memberikan kepastian. Mereka yang selama ini dianggap sebagai pengayom masyarakat justru lebih memihak sawit daripada nasib warga desa. Memang mereka kecewa. Tetapi sebagai anak alam yang biasa hidup dengan kearifannya, mereka tidak berhenti dan pasrah atas ancaman yang dihadapi.

WE sebagai pendamping dalam program ketahanan pangan mengajak mereka untuk menggarap lahan-lahan kosong dengan cara menanami tanaman-tanaman yang bermanfaat dan sesuai dengan iklim tumbuh. Lahan kering di tanami berbagai tanaman perkebunan dengan pola pendekatan agroforestry, dataran rendah ditanami padi dengan cara mencetak sawah-sawah baru dan memanfaatkan rawa-rawa sebagai tempat pemijahan dan pemeliharaan ikan. Semua aktivitas ini dilakukan dengan harapan masyarakat sadar bahwa mengandalkan mata pencaharian dari satu sumber terbukti sangat riskan dan dengan mengelola tanah-tanah yang selama ini didiamkan dapat memberikan pendapatan lain. Harapan lebih jauh, para pengambil keputusan dapat melihat kondisi desa Muara Dua secara bijak bahwa tanah-tanah itu dimanfaatkan untuk melanjutkan kehidupan anak cucu. Warga desa hanya memerlukan lahan secukupnya tidak lebih. Jadi kalau para investor mau sedikit berbagi bumi Borneo ini masih terlalu luas dan tidak perlu mengusir mereka dari kehidupan yang dibangun sejak nenek moyang mereka.

Ketika beberapa warga daerah lain menjerit kelaparan, sementara ada sekelompok masyarakat yang mampu mengelola sumber daya alam secara lestari sehingga ketahanan dan kedaulatan pangan warga terjamin, semestinya kearifan warga Desa Muara Dua dan desa-desa sejenis mendapat dukungan bukan malah diancam dengan mega proyek perkebunan kelapa sawit. Belum puaskah “si rakus“ itu menguras Kalimantan? ***

 



Copyright © 2006 by Forum Pengembangan Pembaharuan Desa
Powered by XOOPS & 7dana.com