Thursday. December 11. 121930
  HOME Berita Desa Link Bulletin MUDIK Download Kontak Kami
Main Menu
Bulletin MUDIK
Kebijakan Pemerintah
Buku Terbitan FPPD
Tentang FPPD


 

MUDIK Edisi 5

| Salam Mudik | Forum Kita | Editorial | Opini | Sajian Utama | Sajian Utama2 |
| Kunjung Kampung | Tokoh Kita | Dialog Wong Cilik | Resensi Buku |
| Dukungan Program Aksi|

Tokoh Kita

Busung Lapar vs Busung Kenyang

Sudah memasuki tahun ke dua meja santai depan rumah Burhan tidak lagi berisi tumpukan surat kabar. Rupanya petani yang haus informasi ini berhenti berlangganan koran lagi, hal ini dibuktikan dengan tidak datangnya pengantar koran yang selama ini selalu setia mengantarkan koran ke rumah Burhan setiap pagi. Nasrul tidak percaya dengan apa yang dilihatnya dan dia pun ingin membuktikan apakah benar Burhan tidak langganan koran lagi. Sebagai sahabat karib Burhan, Nasrul memasuki rumah sederhana dan dia semakin terkejut ternyata TV tua 14” yang selama ini sebagai salah satu sumber berita juga tidak menyala padahal ini jam-jam di mana semua stasiun TV sedang menyiarkan warta berita. Burhan justru sedang ngobrol santai dengan Lani ditemani dua gelas teh hangat dan sepiring ketela goreng. Obrolan Burhan dan Lani berhenti sekita melihat kedatangan Nasrul. Tiga tokoh masyarakat yang ide-ide dan gerakkannya selama ini selalu membuat pembaharuan desa, secara spontan bertemu dan terjadilah diskusi hangat diantarannya

Burhan : Saya mimpi apa tadi malam ya, kok pagi-pagi ada dua tamu tak diundang? Burhan memulai pembicaraannya.
Lani : Yaaa… jaman kayak gini kok masih percaya mimpi?!, nggak usah harus mimpi kang, apabila kang Burhan dapat menciptakan hal-hal aneh pasti banyak orang yang datang ke sini!, ucap Lani dengan nada sedikit genit.
Burhan : Hal aneh apa Lan? Kamu kok bikin saya penasaran saja.
Lani : Kang Burhan nggak merasa to kalau akhir-akhir ini sikap Kang Burhan ini radha-radha aneh?
Nasrul : Nah itu dia, aku ke sini juga bukan tanpa tujuan lho Bur! Persis seperti kata Lani, aku ke sini ingin mengetahui dan membuktikan keanehan Burhan akhir-akhir ini.
Burhan : Wah kalian ini bikin saya deg-degan aja,… udah ayo diminum tehnya ini singkongnya enak lho, disambi!
Lani : Nah karena tidak hanya saya yang melihat keanehan itu maka aku mau sebutkan sekarang, kenapa kok meja depan itu bersih dari koran, kemana tukang koran itu, apakah sudah nggak kuat bayar langganan??? Ejek Lani sambil menutup senyumnya dengan telapak tangan.
Nasrul : Selain koran-koran itu sekarang tidak ada lagi, kenapa juga kok TV itu tidak menyala bukankah ini jam-jam warta berita yang bia-sanya kamu nggak mau ketinggalan?
Burhan : Ooooalah,… itu to yang kalian anggap aneh itu? Tawa Burhan meledak-ledak memecah keheningan ruang tamu ukuran 5 x 6 m itu. Lanjut Burhan ; Ya,… betul kalian tidak salah kalau hampir satu tahun aku hampir-hampir menutup telinga dan mata, aku muak, aku bosan, aku jijik, pokoknya aku nggak tertarik lagi dengan berita-berita di media masa.
Nasrul : Lho kenapa???
Lani : Iya kang kenapa, apakah nanti nggak ketinggalan jaman? Bukankah kamu yang mendorong warga kita untuk banyak membaca dan menelaah informasi? Kata kang Burhan jaman sekarang ini dunia dimiliki oleh orang-orang yang mengusai informasi? nanti kalau kang Burhan nggak baca Koran dan melihat berita TV nggak dapat mengusai dunia dong! Lani terus merangsek Burhan dengan nada-nada sindiran.
Burhan : Itu juga tidak salah, Lani maupun Nasrul benar. Tetapi coba kalau nggak percaya TV itu hidupkan, saya berani bertaruh berita-nya pasti berita penderitaan, berita masalah kelaparan, flu burung, perampokan, kakek memperkosa bocah umur 8 tahun, pimpinan pondok pesantren menggerayangi santrinya, bencana banjir, tanah longsor, angin puyuh, gagalnya tim PSSI junior dalam uji coba de-ngan Vietnam, terpuruknya perbulutangkisan Indonesia, korupsi, demonstrasi menolak kebijakan pemerintah, dibebaskannya koruptor dari jeratan hukum, pokoknya tidak ada berita yang menggembirakan, semua berita akhir-akhir ini pasti berita menyedihkan.
Lani : Oooo itu masalahnya! Memang kang aku pun ikut prihatin. Apakah negeri ini harus ambruk ya kang???
Nasrul : Ah lagi-lagi Lani ini kok nyindir melulu. Saya juga prihatin Bur sama dengan kamu, tapi apakah kita tutup mata dan tutup telinga terhadap berita ini bermanfaat ya???
Lani : Tutup mata dan tutup telinga boleh-boleh saja yang penting jangan tutup hati nurani.
Burhan : Justru aku nggak langganan Koran, nggak mendengarkan berita TV itu karena nuraniku saya buka lebar-lebar. Lagi-lagi Burhan tertawanya meledak.
Lani : Tetapi kang Burhan dan Nasrul pasti nggak melihat kenyataan di masyarakat akhir-akhir ini? Kemarin di TV aku menyaksikan kang, berita pemberian bantuan kepada warga penderita busung lapar, yang memberikan katanya para pejabat dari pusat dan kabupaten. Warga busung lapar ini bisa anda ba-yangkan kan?! Seluruh tubuhnya keriput, kurus kering yang buncit hanya perutnya saja. Mereka menatap para pemberi bantuan de-ngan pandangan mata kosong, penuh harap kepada si dermawan itu. Yang membuat saya jijik kang, pejabat itu mukanya hampir rata tidak ada lekuk-lekuknya lagi, mana hi-dung mana pipi, mana telinga. Rupanya kulit pejabat itu tidak elastis lagi, sudah tidak mampu menampung lemak dari hasil makan mereka. Dia gemuk, muka tembem, perut buncit badannya tampak bulat, pokoknya mirip kuda nil lah!.
Burhan : Jadi tepat to kalau saya belum mau beli koran dan putar TV?
Nasrul : Kalau saya malah punya ide lain nih! Mendengar cerita dari Lani tadi aku pingin membuat berita yang judulnya Busung Lapar Vs Busung Kenyang.
Ketiga tokoh ini secara serentak berdiri dari kursi sambil tertawa terkekeh-kekeh melihat kontradiksi-kontradiksi yang sedang marak di negeri ini. Sekarang banyak rakyat kekurangan gizi sampai terjadi malnutrition, namun juga tidak kurang masyarakat Indonesia yang obesitas karena terlalu banyak makan.

(Warno Hadi W)

 



Copyright © 2006 by Forum Pengembangan Pembaharuan Desa
Powered by XOOPS & 7dana.com