Arianto, seorang pemuda desa yang tak goyah oleh gemerlapnya kota. Seorang bapak muda yang mempunyai seorang anak berumur 3 tahun ini konsisten dengan panggilan nurani untuk hidup bersama masyarakatnya. Keberhasilan hidup baginya bukan kesuksesan seseorang dalam mengarungi hidupnya. Seseorang yang sukses meraih pendidikan tinggi, sukses dalam berbisnis, hebat dalam berpolitik, berprestasi di bidang olah raga dan semacamnya, kalau itu dicapai secara individu belum sukses dalam kehidupan. Kesuksesan hidup baginya adalah keberhasilan bersama. Arianto tetap mengakui prestasi-prestasi individu seperti tersebut di atas, tetapi bagi pelatih bela diri Setia Hati Teratai ini keberhasilan hidup apabila dapat melepaskan kemiskinan dari komunitasnya.
Berangkat dari dunia pertanian yang diwarisi dari nenek moyangnya Arianto memulai sebuah gerakan besar yang berikutnya berkembang ke kegiatan-kegiatan yang berdampak lebih luas, seperti; konservasi lahan, konservasi hutan, pertanian organik dan optimalisasi lahan pekarangan melalui diversifikasi tanaman marginal menjadi produk unggulan di desanya. Dimulai dari rasa keprihatinan terhadap nasib petani di desa pada umumnya yang selalu saja menjadi korban dari segala bentuk kebijakan, Arianto selalu berfikir keras untuk menjawab pertanyaan “ jalan mana yang harus ditempuh untuk melepaskan petani dari belenggu kemiskinan?’.
Orang bijak mengatakan; “puncak gunung yang tinggi dapat ditaklukkan melalui langkah setapak demi-setapak.” Kalimat tersebut rupanya dipegang teguh dan menjadi pemicu semangat untuk melakukan sesuatu yang besar dimulai dari kegiatan yang kecil-kecil. Arianto telah banyak memulai kegiatan yang mempu menggerakkan masyarakat, namun masih bersifat parsial dan belum menyentuh akar masalah yaitu kesulitan ekonomi bagi masyarakat sekitarnya.
Garut (arrow root) tanaman umbi-umbian yang hidup di bawah naungan pernah mendominasi halaman pekarangan di Jawa sejak jaman Belanda hingga tahun 70 an. Manfaat tanaman garut sebagai pendukung bahan baku makanan berujud umbi atau tepung dapat digunakan sebagai bahan baku berbagai jenis makanan. Menurut penelitian PT. Auduri Malang tepung garut memiliki keunggulan dibandingkan tepung terigu. Bahkan informasi yang pernah dihimpun oleh Dialog, masyarakat mengatakan bahwa punahnya tanaman garut disengaja agar tidak menyaingi tepung terigu. Menurut penelusuran sejarah yang dirunut oleh Dialog analisa masyarakat tersebut dapat dibenarkan. Pasalnya, pada tahun 1974 ada gerakan pemberantasan nyamuk demam berdarah di desa-desa dan tanaman garut menjadi kambing hitam sebagai sarang pengembangbiakan nyamuk tersebut. Atas alasan itulah ada instansi kesehatan pernah menginstruksikan agar masyarakat yang mempunyai garut memusnahkannya. Berbarengan dengan gerakan pemberantasan nyamuk yang berdampak pada pemusnahan garut, saat itu juga di Negara ini sedang dibangun sebuah perusahaan tepung terigu skala besar. Masyarakt menganalisa; apabila garut tidak dimusnahkan maka eksistensi pabrik tepung terigu dapat terganggu sebab garut merupakan satu-satunya yang mampu menyaingi keberadaan terigu.
Bagi pemuda berbadan gempal ini informasi tersebut merupakan pertanyaan besar dan sekaligus penasaran. Dan dalam proses pergaulan sehari-hari ketemulah dia dengan aktivis Dialog yang sedang mengembangkan program pengembangan ekonomi pedesaan berbasis potensi lokal. Ibarat gayung bersambut, Arianto dan Dialog mencoba mengolah garut menjadi emping yang kemudian dapat memberi penghasilan cukup berarti bagi keluarga Arianto dan masyarakat sekitar. Selanjutnya kita ikuti wawancara MUDIK dengan Tokoh Kita Edisi ini.
| Mudik |
: |
Bisakah P. Ari menceritakan awal mula tertarik dalam kegiatan kemasyarakat?’
|
| Arianto |
: |
“Yah,…dulu saya sebagai petani yang berorientasi bisnis, jadi jenis tanaman yang saya tanampun selalu melihat permintaan pasar, seperti; bawang merah, cabe, padi, jagung dan jenis lainnya. Karena orientasi saya bisnis maka mulai jenis dan kualitas bibit selalu saya pilih yang terbaik, termasuk pupuk dan obat-obatannya. Apabila dilihat dari hasil memang selalu memuaskan, tetapi hasil yang berlimpah itu ternyata tidak memberi keuntungan yang banyak karena semua sarana produksi yang saya gunakanpun harganya cukup mahal juga. Hingga dalam suatu hari kelompok tani kami termasuk saya diajak oleh Plan melakukan studi banding ke Sukoharjo Jateng. Disanalah saya dan kawan-kawan menyaksikan dan berdialog dengan kelompok tani yang mengolah kotoran sapi menjadi pupuk kompos. Saya dan kawan-kawan sangat terperangah ketika itu, pasalnya petani di Sukoharjo mendapatkan keuntungan cukup banyak hanya dengan mengurangi pupuk kimia digantikan dengan pupuk kompos buat sendiri. Dari situlah kami semakin yakin bahwa pasti ada jalan kalau kami sungguh berusaha. Sampai di rumah saya mencoba menerapkan pengalaman baru tersebut pada sebidang lahan yang dimiliki oleh keluarga saya.”
|
| Mudik |
: |
“Bukankah menghilangkan pupuk kimia merupakan suatu tindakan yang aneh di masyarakat sini? Apakah tidak mendapat tentangan dari keluarga atau masyarakat?" |
| Arianto |
: |
“Persis,!… tantangan yang paling berat justru dari keluarga sebab tanah yang kami garap merupakan milik keluarga, jadi saya tidak biasa mengolahnya menurut cara saya sendiri. Ketika keluarga saya menentang saya pun tidak biasa membabi buta. Untungnya kakek saya punya sebidang tanah yang tidak digarap karena tidak ada seorangpun yang mau menggarap karena tanah tersebut sangat tandus. Antara percaya dan tidak, tanah seluas 1.400 m dari kakek tersebut saya olah dengan cara mengurangi masukan bahan kimia sekecil mungkin”.
|
| Mudik |
: |
“Apakah hasilnya memuaskan?”
|
| Arianto |
: |
“Hasil panen sangat sedikit dan itulah yang saya menjadi bahan tertawaan tetangga. Habis biasanya panen saya selalu bagus sekarang menjadi jelek. Saya tidak sedih atau merasa malu, tetapi ketika saya ceritakan bahwa panen saya menguntung semua penasaran. Mulai saat itulah saya sedikit memberikan masukan tentang analisa usaha tani, membandingkan antara biaya dan hasil sehingga dapat diketahui usaha kita ini untung atau rugi dan berapa?” |
| Mudik |
: |
“Perubahan sikap dan perilaku bertani yang ramah lingkungan sudah cukup meluas bahkan ada beberapa kelompok tani berorientasi pada kelestarian. Jadi wajar kalau kelompok Tani Mutiara Hijau mendapat kepercayaan baik dari masyarakat maupun dinas pertanian kabupaten Ponorogo. Lalu bagaimana ceritanya kok kegiatan pak Ari dapat meluas ke pelestarian hutan dan pemberdayaan ibu-ibu melalui pengolahan garut menjadi emping?”
|
| Arianto |
: |
“Ketika itu Plan bekerja sama dengan berbagai LSM untuk memajukan desa kami yang besar tetapi tidak maju-maju ini. Ada LSM yang membidangi Tumbuh Kembang Anak, bidang kesehatan, bidang pendidikan, bidang pemberdayaan ekonomi dll. Pak. Catur sebagai pendamping dari LSM Dialog yang membidangi pengembangan ekonomi sering berdiskusi dengan saya dan kawan-kawan. Kami sama-sama prihatin melihat ibu-ibu yang banyak waktu luangnya dan menghabiskan waktunya untuk kegiatan kurang produktif. Secara bertahap kami mendekati mereka dan terjadilah kesepakatan untuk mengisi waktu luang dengan cara mengolah garut menjadi emping.”
|
| Mudik |
: |
“Bukankah garut sudah semakin langka?”
|
| Arianto |
: |
“Betul! Kami berani menawarkan karena garut masih ada dan kebetulan kami mendapat informasi bahwa emping garut disukai pasar sementara petani yang mampu menyediakan masih sangat sedikit.”
|
| Mudik |
: |
“Apakah membuat emping garut memerlukan ketrampilan khusus dan berapa jumlah produksi setiap musim?”
|
| Arianto |
: |
“Membuat emping garut sangat mudah, saya berani mengatakan bahwa setiap orang dewasa normal mampu membuat emping garut karena tidak memerlukan teknis khusus, cukup dengan memotong-motong umbi garut, mengkukusnya, kemudian di pukul-pukul sampai pipih, dijemur sampai kering jadilah emping garut yang siap dijual.
|
| Mudik |
: |
“Berapa jumlah produksi dan harga jualnya?” |
| Arianto |
: |
“Garut diolah idealnya selama bulan Juni – Juli dan Agustus. Selain bulan itu kami belum mampu mengolahnya sebab bulan sebelumnya Juni garut tumbuh vegetatif tidak punya umbi sementara bulan setelah Agustus hingga musim hujan, umbi garut penuh dengan serat bakal daun, jadi meskipun umbi belum tumbuh tidak cocok dijadikan garut. Jadi selama tiga bulan itulah kami memproduksi dan total produksi yang dihasilkan kelompok ibu-ibu tetangga saya rata-rata antara 700 kg sampai dengan 900 kg.”
|
| Mudik |
: |
“Berapa harga emping garut per kg?”
|
| Arianto |
: |
“Musim ini Rp. 12.000,- / kg di tempat, kalau di Ponorogo (kota Kabupaten lk. 15 km) mencapai Rp. 15.000,- / kg. |
| Mudik |
: |
“Apakah produk tersebut dapat ditingkatkan dan pasar masih menerimanya?” |
| Arianto |
: |
“Produk sejumlah itu hanya satu kelompok ibu dekat rumah saya, sementara telah tumbuh beberapa kelompok yang membuat emping garut kebetulan saya tidak memantau berapa jumlah produksinya. Tentang pasar sampai dengan saat ini kami tidak kawatir karena di tingkat lokal saja kami selalu kekurangan belum melayani permintaan dari Ponorogo atau luar daerah. Mereka sering memesan tetapi saya tidak bisa menyanggupi karena masih basah saja sudah banyak yang ditunggu pembeli”.
|
| Mudik |
: |
“Apakah kelompok ini puas dengan hasil sekarang ini atau ada rencana lain untuk mengembangkan perekonomian warga masyarakat?”
|
| Arianto |
: |
“Oh ya,… perlu saya sampaikan bahwa dampak dari kegiatan pengolahan garut ini kalau dinilai secara ekonomi dari garut itu sendiri tidak banyak karena masa tersedianya bahan baku hanya tiga bulan, tetapi dampak lainnya cukup meluas. Sekarang ini ibu-ibu dan juga bapak-bapak mulai menengok ke usaha pengolahan makanan lainnya. Dua tahun setelah garut ini menampakkan hasil, banyak keluarga yang mencoba mengolah jagung menjadi keripik, marning, emping jagung, selai pisang, keripik tempe bahkan ada kelompok yang sekarang ini sedang serius memproses bahan jamu menjadi jamu instant. Dan yang paling saya bangga garut ini dapat diselamatkan malah melalui GNRHL (gerakan nasional rehabilitasi hutan dan lahan) kelompok kami mendapat kepercayaan dari Perhutani untuk menggarap hutan seluas 10 ha. Lahan tersebut selain ditanami kayu jati, tenaman pengisinya kami tanamai garut dengan harapan tahun depan ini bahan baku emping akan cukup banyak.”
|
| Mudik |
: |
“Kesadaran bersama ini ada yang menggerakkan atau atas inisiatif mereka sendiri?”
|
| Arianto |
: |
“Dua-duanya, maksud saya; masyarakat timbul kesadaran untuk membangun perekonomian melalui usaha-usaha skala rumah tangga dan pihak luar seperti LSM, Pemerintahan Desa dan Dinas-Dinas pun ikut memikirkan bagaimana caranya kami-kami ini tidak selalu terbelenggu dalam kemiskinan.” |
| Mudik |
: |
“Apa hambatan-hambatan pak Ari dalam menggerakkan ekonomi pedesaan ini?”
|
| Arianto |
: |
“Yang paling kami rasakan memang keterbatasan bahan baku emping, tetapi bagi saya itu masalah mudah. Masalah paling berat yang saya hadapi sebetulnya adalah masalah mental. Maksud saya masyarakat kami mental wirausahanya masih perlu dibangun. Sangat banyak warga desa kami ini yang cara berfikirnya sangat tradisinal yaitu melakukan kegiatan pertanian atau usaha apa saja sekedar melakukan belum menggunakan analisa yang tepat. Jadi menghitung kegiatannya itu menguntungkan atau malah merugikan saja masih belum biasa. Jadi kalau mereka bertani ya menanam-memelihara-memanen tidak mau mencoba menghitung berapa ongkos yang dikeluarkan, berapa hasil yang didapat, untung atau rugi dan tindakan-tindakannya masih sebagai kegiatan rutinitas. Padahal hidup jaman sekarang tidak mungkin dihadapi cara-cara seperti itu khan?”
|
| Mudik |
: |
“Oke,… adakah pesan-pesan untuk para pembaca Mudik?”
|
| Arianto |
: |
“Saya ingin menyampaikan kepada pembaca Mudik khususnya para petani; apabila kita melakukan usaha apapun, termasuk usaha tani dan usaha kita memerlukan bahan baku dari hasil buatan pabrik, tolonglah dihitung sekali lagi. Pesan yang kedua; semiskin-miskinnya desa atau lingkungan kita kalau kita sungguh-sungguh pasti ada jalan. Mungkin demikian saja dan terima kasih.”
|
Bp. Arianto tinggal di Dusun Plebon, Desa Carangrejo, Kecamatan Sampung Kabupaten Ponorogo. Sebagaian besar warga usia produktif ( 20 – 50 th ) merantau di kota-kota besar bahkan sangat banyak yang menjadi TKW/TKI. Arianto tidak tertarik untuk meninggalkan desanya karena menumpuknya ringgit, rupiah dan dinar belum dapat dikatakan sukses. Sukses hidup baginya adalah keberhasilan bersama.