MUDIK Edisi 4| Salam Mudik | Forum Kita | Editorial | Opini 1 | Opini 2|| Sajian Utama 1 | Sajian Utama 2 | Kunjung Kampung | Tokoh Kita| | Dialog Wong Cilik | Resensi Buku | Salam MUDIK
Tiga edisi berturut-turut, yaitu edisi I, II dan III Mudik selalu menyajikan rubrik berkaitan dengan Kebijakan mengengenai desa atau dengan sebutan nama lain. Memang pada masing-masing edisi ada berbedaan terutama pada kolom opini dan sajian utama, tetapi nuansa kebijakan selalu saja tampil dalam buletin kita ini. Edisi IV sekarang ini Mudik mencoba menampilkan rubrik-rubrik berkaitan dengan ekonomi pedesaan. Kebijakan bukan kita lupakan namun apalah artinya kebijakan apabila tidak berdampak pada perbaikan kesejahteraan masyarakat. Dalam sebuah dialog interaktif di station TV swasta, Kwik Kian Gie pernah berpendapat; ”reformasi yang berhenti pada pengembangan wacana dan tidak menyentuh sampai ke akar masalah yang dihadapi rakyat, yaitu masalah ekonomi justru akan menimbulkan masalah lebih besar bagi bangsa ini”. Pendapat Kwik Kian Gie tersebut menjadi salah satu pertimbangan Mudik untuk mencoba menampilkan kegiatan ekonomi pedesaan baik yang berskala keluarga maupun skala kelompok. Kondisi perekonomian yang tak kunjung membaik di tanah air kita juga merupakan alasan lain Mudik untuk mencoba menengok seperti apa perekonomian pedesaan. Apakah mengalami carut-marut seperti sektor pabrikan atau justru dari sanalah bangsa ini membangun perekonomiannya. Ekonomi pedesaan selama ini kurang mendapat perhatian sehingga desa menjadi tidak menarik dan hal ini mengakibatkan pada perginya warga desa ke kota-kota atau ke luar negeri untuk mencari penghasilan yang lebih layak. Desa menjadi sepi, kurang gairah, dan tidak menarik lagi. Warga yang tinggal di desa sekarang ini seolah tinggal sisa-sisa warga yang merantau atau warga yang terpaksa harus tinggal di desa. Warga pedesaan yang dicirikan dengan keakraban dan budaya gotong-royong perlu kita tengok kembali. Masih adakah keramah-tamahan, budaya saling membantu, keakraban antara warga di desa? Bukankah bangsa Indonesia selalu memproklamirkan dirinya sebagai bangsa ramah tamah? Atau justru budaya semacam itu sudah tidak ada lagi? Bisakah gotong-royong diartikan sebagai ”social capital?” Silakan menyimak Mudik.
Salam dari kami. |
