Friday. July 30. 2010
  HOME Berita Desa Link Bulletin MUDIK Download Kontak Kami
Menu Utama
Tentang FPPD
Buku Terbitan FPPD
Bulletin MUDIK


 

MUDIK Edisi 4

| Salam Mudik | Forum Kita | Editorial | Opini 1 | Opini 2|
| Sajian Utama 1 | Sajian Utama 2 | Kunjung Kampung | Tokoh Kita|
| Dialog Wong Cilik | Resensi Buku |

Dialog Wong Cilik

Kelangkaan BBM di Mata Wong Cilik

Galang Rambu Anarki, dengarlah
Tangisan pertamamu ditandai BBM melonjak tinggi...
(Iwan Fals)

Sepenggal syair Iwan Fals di atas cukup populer sejak tahun 1980an dan hingga kini masih sering diputar di radio-radio atau dilantunkan oleh para penyanyi. Cukup lama memang syair itu ditulis dan tentunya penyanyi populer itu tidak asal menulis. Meskipun Mudik belum pernah mengangkat Iwan Fals sebagai ”Tokoh Mudik” syair-syairnya mengenai kritik sosial termasuk kondisi masyarakat desa cukup menggigit dan aktual. Kelangkaan BBM terjadi hampir diseluruh Nusantara, apakah karena stoknya menipis, kesalahan menejemen, dipolitir atau dikorupsi? Di bawah kita ikuti dialog antara Paimin – Paino dan Paidin yang mencoba menyoal tentang kelangkaan BBM di desanya.

Paimin : ” Wuiiih, cuki mai!, aku antri BBM sejak habis magrib sampai jam 23.30 akhirnya cuma dapat 5 liter.”
Paino : ” Wah kalau begitu saya besok nggak usah pergilah dari pada bisa berangkat nggak bisa pulang?”
Paimin : ” Kok begitu? ”
Paino : ” Lha iya, sekarang sepeda motor saya masih ada bensinnya tidak lebih dari 2 liter padahal saya mau ke pasar jaraknya 50 km. Berangkatnya pasti sampai, kalau nanti nggak ada bensin mau diisi apa? ”
Paimin : ” Saya sebetulnya bingung lho! mulai dari kelas 4 SD sampai dengan SMP saya selalu mendapat pelajaran tentang Ilmu Bumi dan saya selalu ingat Indonesia ini katanya kaya raya termasuk kaya minyak bumi, kok sampai kehabisan ini apa yang memang habis ya no?”
Paino : ” Yah,... sebetulnya kalau habis itu juga tidak, buktinya setiap pejabat ngomong di TV atau di koran mengatakan;” cadangan BBM kita aman!”
Paimin : ” Kalau begitu kenapa kok jadi seperti ini?”
Paidin : ” Bentar-bentar, jangan emosi, masalah itu tidak akan selasai dihadapi dengan emosi, mari kita belajar menganalisa!”
Paino : ” Oalah din,din!? pangkatmu itu apa sok ngomong tinggi, muluk-muluk pakai istilah analisa segala, mahal ya mahal, sulit ya sulit.!”
Paidin : ” Ya ini, ya seperti ini yang mengakibatkan negara kita nggak bisa lepas dari masalah krismon!”
Paino : ” Dah, udah, jangan bertengkar sendiri. Coba gimana analismu Din?”
Paidin : ” Negara kita kaya raya memang benar, tetapi yang namanya BBM kan hasil tambang yang dapat habis. Sementara desa kita ini yang dari jalan aspal saja berjarak 8 km begitu banyak mesin yang makanannya BBM, bagaimana dengan kota kabupaten, Propinsi dan secara nasional. Apalagi kalau kita mau membaca media massa, berapa banyak bensin atau solar harus dibakar demi bergeraknya sebuah mesin?!”
Paimin : ” Tapi kan banyak negara yang punya minyak bukan negara kita saja, apakah negera lain juga selalu mengalami masalah seperti kita?”
Paidin : ” Bisa ya, bisa tidak.”
Paino : ” Gimana to Din kok mencla-mencle!.”
Paidin : ” Ya nggak mencla-mencle! Makanya to kalau lihat TV jangan hanya lihat sinetron saja, lihat tuh berita agar tahu berita luar termasuk kalau beberapa negara maju kesulitan BBM."
Paimin : ” Aku pernah juga baca koran yang menulis bahwa kesulitan BBM kita bukan karena cadangannya yang menipis, tetapi pengelolaannya yang amburadul.”
Paidin : ” Itu juga tidak salah, tapi bagi saya yang memprihatinkan justru berita belakangan ini.”
Paino : ” Tentang apa Din?”
Paidin : ” Kamu-kamu ini gimana?! Sekarang saya tanya balik pada kalian, adakah media yang tidak memberitakan tentang korupsi setiap hari? Sudah berapa banyak uang kita dikorupsi oleh koruptor-koruptor itu? Itu lebih berbahaya dari pada kelangkaan bensin?”
Paimin : ” Dah udah saya nggak mau membicarakan korupsi, bosen, muak, menjijikkan, kesal, geram, dah pokoknya kalau ada istilah lagi yang pas untuk ungkapan rasa kejengkelanku terhadap mental koruptor saya akan koleksi dan suatu ketika mau saya semprotkan pada mukanya koruptor bila saya ketemu.”

Dialog mereka berakhir, Paimin dan Paino mentertawakan Paidin karena dua orang ini dapat pulang dengan mengenderai sepeda motornya sementara Paidin harus mengeluarkan keringatnya untuk mengayuh sepeda yang sudah tak berwarna.

 



Copyright © 2006 by Forum Pengembangan Pembaharuan Desa
Powered by XOOPS & 7dana.com