Sunday. February 5. 2012
  HOME Berita Desa Link Bulletin MUDIK Download Kontak Kami
Menu Utama
Tentang FPPD
Buku Terbitan FPPD
Bulletin MUDIK


 

MUDIK Edisi 3

| Salam Mudik | Forum Kita | Editorial | Opini 1 | Opini 2|
| Sajian Utama 1 | Sajian Utama 2 | Kunjung Kampung | Tokoh Kita|
| Dialog Wong Cilik | Resensi Buku |

Dialog Wong Cilik

Kelangkaan BBM di Mata Wong Cilik

Suasana serius dan sedikit tegang dalam sebuah acara MUSRENBANGDUS (Musyawarah Pembangunan Dusun) di dusun Dorokong, Desa Tulung Kecamatan Sampung Kabupaten Ponorogo Jatim berubah menjadi gelak tawa yang tak henti-hentinya. Pasalnya mbah Jamil si tukang pijit punya “plesetan” yang sangat lucu.

Hari mulai beranjak malam, jam dinding yang bergantung pada dinding tak berplester itu menunjukkan Pukul 22.15. Hidangan kopi, teh, jagung dan kacang rebus mengalihkan perhatian peserta MUSRENBANGDUS dari diskusi yang cukup alot terutama dalam penggalian ide-ide untuk mencari solusi masalah sulitnya mendapatkan air pertanian. Sambil istirahat TV 14 inci pojok ruangan itu dinyalakan dan kebetulan sedang menyiarkan tayangan bencana alam tanah longsong di Cimahi Bandung. Sekitar 30 warga desa yang hadir dalam pertemuan tersebut ikut menimpali berita mengerikan itu. Dengan cermat dan teliti sebagian warga dapat bercerita ulang, menunjukkan lokasi bencana, berapa korbannya dan certia-cerita menyedihkan lainnya.

Diskusi rehat kopi ini menjadi menarik karena warga mencoba menganalisis apa penyebab terjadinya bencana dimulai sejak Presiden Susilo Bambang Yodhoyono menjabat sebagai Presiden Republik ini. Mulai dari kecelakaan di jalan Tol Jagorawi, Gempa bumi Nabire, Kecelakaan Lion Air Solo, Banjir Bandang Blitar. Banjir Jakarta sampai bencana tanah longsor di Cimahi yang baru saja dilihat. Analisis dan pendapatpun bermunculan; ada yang menganalisis dari sudut pandang religius, ada yang menyorotinya atas dasar analisa situasional, ada yang dari sudut pandang Supra Natural dan suasana pun menjadi dinamis tidak seperti waktu membahas tentang pembangunan yang baru saja terpotong karena keluarnya kopi hangat beserta kelengkapannya. Berikut dialog mereka:

Mbah Jiman : “Aku yo heran bencana kok nggak ada henti-hentinya menimpa bumi kita ini, apa ini pertanda bumi sudah tua ?”, Tanya mbah Jiman sambil mengupas jagung rebus.
Mas Jimun : “Yo bisa ya, ya bisa tidak to mbah! Saya bilang ya karena kitab suci kita menjelaskan bahwa sekarang ini sudah waktunya asar.” dengan kefasihannya berdalil, mas Jimun mengupas tentang Qur’an surat Al Ashr yang intinya menjelaskan bahwa peradaban ini sudah sangat tua dan diibaratkan jaman ini perjalanan matahari, disitu dianalogkan jaman ini sudah waktu ashar (Jam 15.00).
Mbah Jiman : :” lha kalau tidak?” Mulut Mbah Jiman yang penuh jagung rebus itu melanjutkan bertanya.
Mas Jimun : “Tua mudanya jaman ini bergantung manusianya, kalau hidup kita isi dengan samangat, kebersamaan, cinta kasih, beramal sholeh justru jaman ini akan berjalan sebaliknya; makin lama bukannya makin tua tetapi akan semakin muda karena hidup menjadi penuh arti.”
Mbah Jiman : ” Maksudku bukan itu Mun! ini lho bencana yang terus-terusan ini pertanda apa?
Yu Jirah : “Ada urusan apa to mbah kok mikir “adoh-adoh,” (jauh-jauh) lha wong mikir masalah kita sendiri saja nggak tuntas-tuntas kok mikir bencana, terlalu tinggi mbah, mbah!!!”
Mbah Jiman : ” Lho Nok… cah ayu, Jangan begitu pikiranmu! Justru kita ini juga terancam bencana! Coba kalau kita tidak dapat lepas dari kemiskinan? kita pasti menjadi lapar, kalau gunung di atas itu (mbah Jiman menunjuk lereng perbukitan sebelah barat dusun) tidak kita konservasi cepat atau lambat akan mengubur kita”.
Diskusi ini tampaknya lebih menarik dari acara pokok maka sebagian warga ikut menimpali dan mencoba menganalisis menurut versi masing-masing kaitannya dengan bencana.
Mas Jamin : “Aku setuju dengan mbah, tapi bagi saya bencana yang paling mengerikan bukannya gunung meletus, tsunami, tanah longsor, pesawat jatuh dan macem-macem itu. Yang paling mengancam kita adalah bencana kepemimpinan kita. Pimimpin yang tidak punya komitment kan jauh lebih menyengsarakan rakyat”
Mas Jimun : “Bencana opo maneh iku” (bencana apa lagi?)
Mas Jamin : “Coba pikir, kita baru saja ditinggalkan pimpinan kita yang namanya Bupati. Bupati kita khan pergi begitu saja setelah kita dukung dan berhasil mendapat suara untuk duduk di singgasana DPR Pusat. Pimpinan diserahkan ke asistennya dan kita nggak tahu apa hasil kepemimpinannya. Apakah ini namanya tanggungjawab dan bukankah bencana macam begini lebih menyakitkan?”
Mbah Jiman :“Ya itu salah kita sendiri, kenapa dulu memilih dia!”
Yu Jirah : “Bagi saya yang sudah kita jadikan pengalaman, berikutnya kita harus berhati-hati. Kebetulan tahun ini kita akan pemilihan bupati secara langsung, suara kita akan langsung menentukan siapa yang akan memimpin kita jadi jangan asal memilih dan kita gunakan kesempatan mumpung suara kita sedang laku.”
Mbah Jiman : “Oh,… jadi kita akan memilih bupati langsung seperti memilih anggota dewan dan presiden dulu ya?”
Yu Jirah : ” Betul mbah makanya kita harus pasang strategi agar kejadian yang kemarin tidak terulang lagi”.
Mas Jimun : ““Menurut idemu gimana yu, kelihatannya hari ini kamu cerdas sekali!”!
Yu Jirah : “ Begini !, (yu jirah memperbaiki posisi duduk dan perhatian menjadi semua yang hadir) kita galang persatuan dan kekompakan warga terutama yang sudah punya hak pilih, setelah kita memiliki peta kekuatan kita sodorkan ke calon pasangan Bupati/Wakil untuk kontrak politik.”
Mas Jamin : “Kontrak Politik? Opo maneh iku?”
Yu Jirah : “ Begini lho kang ! kita temui yang namanya Cabup-Cawabup, kita ajak dialog dan dalam dialog itu kita bawa perjanjian. Kita sanggup menggalang sejumlah suara untuknya tetapi kalau dia benar-benar menjadi bupati kita minta dibuatkan sumur artisis agar kita punya air untuk pertanian”.
Mas Jimun : “ Lha apa bisa cara begitu dan bagaimana kalau nggak jadi?”
Yu Jirah : “Kenapa nggak! Ini yang namanya kontrak politik. Agar kita tidak salah pilih kita harus tahu persis jumlah suara dari masyarakat kita dan komunitas lainnya, jangan asal cabub-cawabup kita dekati, kita harus benar-benar memetakannya”.
Mbah Jiman : “Berarti kita melakukan dua pemetaan yu, pertama memetakan kekuatan kita kedua memetakan cabub-cawabupnya.”
Mbah Jamil : “Sudah-sudah kok dadi ngomong politik to!? Bagi saya bencana itu bisa berakhir dengan syarat nama presiden kita harus diganti. Mbah Jamil yang kurus kering dan berprofesi sebagai tukang pijit itu menjadi perhatian seluruh warga yang hadir. Mereka ada yang menanggapi serius, ada yang melecehkan, ada yang sekedar bengong karena sejak Jamil kecil sampai sekarang berusia 60 th baru kali ini mengeluarkan statemen yang membuat orang terbelalak. Sambil tersipu malu mbah Jamil mencoba untuk tetap tegar dihadapan mata peserta MUSREMBANGDUS dan lanjutnya…
Mbah Jamil : “Yaitu,… nama presiden harus diganti!” lanjut mbah Jamil sambil menundukkan wajah.
Mbah Jiman : “Lha iyo diganti siapa nama penggantinya?” Mbah Jiman tidak sabar untuk mendegar.”
Mbah Jamil : “Negara kita banyak bencana karena Presiden kita namanya, SUSILO BAMBANG NYUDO NYOWO”.

Semua tertawa terbahak-bahak dan entah sadar atau tidak mbah Jamil memlesetkan kata YUDOYONO menjadi NYUDONYOWO yang artinya mengurangi nyawa.
( Warno )

 



Copyright © 2006 by Forum Pengembangan Pembaharuan Desa
Powered by XOOPS & 7dana.com