Friday. December 5. 121930
  HOME Berita Desa Link Bulletin MUDIK Download Kontak Kami
Main Menu
Bulletin MUDIK
Kebijakan Pemerintah
Buku Terbitan FPPD
Tentang FPPD


 

MUDIK Edisi 2

| Salam Mudik | Editorial | Opini | Sajian Utama 1|
| Sajian Utama 2 | Sajian Utama 3 | Sajian Utama 4 | Kunjung Kampung | Tokoh Kita|
| Desa di Mata Seniman | Dialog Wong Cilik | Resensi Buku |

Tokoh Kita

Srikandi dari Lereng Lawu

Pertanian Lestari Sebagai Media Pendidikan Politik Tingkat Basis

Gunung Lawu berdiri kokoh membatasi kabupaten ngawi dengan Madiun dan Magetan Jwa Timur. Dusun Masekan desa Wakah Kabupaten Ngarambil Kabupaten Ngawi Jawa Timur berada di ketinggian antara 500 - 700 dpl. Meskipun matahari menyengat keras pada pukul 12.00 WIB dan bertepatan dengan penghujung musim kemarau, udara sejuk yang dihembuskan dari lereng Lawu terasa segar. Jalan menuju desa tidak terlalu sulit dan perjalanan sekitar 5 jam dari Surabaya tidak membuat payah karena pemandangan hamparan sawah dan ladang sekitar desa cukup menghibur. Memang sebagian besar sawah sedang "bero" karena kekurangan air, tetapi bagi beberapa warga yang kreatif memanfaatkan lahannya dengan menanami berbagai jenis komondite yang tidak rakus air; seperti terong, pare, kacang tanah dan lain-lainnya.

Mudik tertarik untuk menggali pengalaman tokoh kita ini karena kepeloporannya dalam bidang pengorganisasian khususnya ibu-ibu pedesaan. Bahkan Ibu Sugiyem yang dilahirkan 13 April 1967 ini cukup nyaris tak ada waktu untuk bersantai karena hampir seluruh waktu digunakan untuk kegiatan mulai dari kegiatan bertani, jualan, mengurusi kelompok sampai dengan kegiatan politik. Opsinya tiada lain selain meningkatkan partisipasi perempuan dalam pembaharuan desa. Ibu dua anak yang gagal menjadi PNS ini merasa belum berarti hidupnya tanpa dapat membantu kesulitan orang lain. Di bawah ini wawancara Mudik dengan Ibu Sugiyem:

M : Menurut informasi dari mas Setiawan katanya ada sebuah Forum namanya Lawu Pertiwi. Bisakan ibu menceritakan apa dan bagaimana forum tersebut".
S : Kalau kelompok, kami ibu-ibu sebetulnya belum terlibat aktif dalam forum tersebut.
M : Barang kali Bapak bisa membantu menjelaskan?
Mudik mengalihkan pertanyaan kepada Bp. Widodo suami ibu Sugiyem yang mendampingi dalam wawancara ini.
W : Mungkin saya dapat membantu Pak, berdirinya forum Lawu Pertiwi dari awalnya kelompok tani yang ada di Ngawi barat mendapat pendapat pendampingan dari LSM Gita Pertiwi. Lambat laun kelompok-kelompok ini makin kuat dan menimbulkan gagasan untuk mendirikan paguyuban bernama Lawu Pertiwi. Kebetulan kelompok Tani Gemah Ripah merupakan salah satu anggota paguyuban tersebut.
M : Kelompok Tani Gemah Ripah ini anggotanya khusus laki-laki, perempuan saja atau laki-laki dan perempuan, lalu bagaimana peran masing-masing anggota?
S : Kelompok Tani Gemah Ripah ini dari dulu anggotanya laki-laki dan perempuan bergabung menjadi satu. Pada saat pengembangan organisasi, para kader atau pengurus kelompok tani mencoba untuk mengajak kelompok-kelompok lain dapat bergabung dalam paguyuban ini dengan maksud memperluas jaringan dan pertukaran informasi. Pertukuran informasi khususnya informasi pertanian di dusun Masekan desa Wakah kecamatan Ngrambe ngawi. .
M : Kalau Ibu Sugiyem sendiri sebenarnya menjadi anggota organisasi apa aja?
S :PKK, Karang Taruna, Parpol PBB
M : Sebagai apa di PBB?
S : Sebagai sekretaris PAC dan dicalonkan sebagai caleg no. 4. Tetapi ya jelas tidak masuk karena suara yang didapat tidak memenuhi untuk perolehan satu kursipun.
M : Pengalaman apa yang diperoleh ibu sebagai Perempuan yang berkecimpung dibidang politik?
S : Sebenarnya cukup bagus dari stretegi yang dikembangkan PBB karena tujuannya untuk menarik ibu-ibu terlibat dalam politik. PBB juga punya program untuk masyarakat seperti pertanian, tatapi sampai sekarang belum jalan.
M : Kenapa pertanian bukan pendidikan Politik?
S : Karena masyarakat yang disasar PBB adalah warga tani atau tokoh-tokoh petani.
M :Pernah dibahas atau disadari oleh PBB apa tidak? bahwa bidang pertanian sudah cukup banyak yang menangani; seperti Gita Pertiwi, Dinas Pertanian Kabupaten, Perhutani, semuanya punya program pertanian tapi yang menangani bidang politik di desa?
S : Sebenarnya juga ada, tetapi warga ini tampaknya trauma karena selama ini banyak dibohongi oleh para politikus. Oleh karena itu sebagai setrategi awal PBB masuk lewat program yang dibutuhkan masyarakat yaitu masalah pertanian, Tanpa mengurangi peran LSM atau Pemkab di bidang pertanian, tetapi nyatanya sampai sekarang masyarakat desa ini yang mayoritas petani nyatanya juga belum banyak kemajuan.
M :Saya tidak terlibat langsung dalam kegiatan partisipan, tetapi berdasarkan pengamatan saya partai-partai ini ramai hanya pada menjelang pemilu. Apakah sampai tingkat dusun Masekan ini juga begitu?
S : Sampai sekarang yang seperti itu karena PBB nggak ada yang jadi caleg, karena hanya mendapat suara 3.000 lebih sementara satu kursi butuh 4.000,- suara.
M : Bagaimana cara ibu menggalang warga kok suara yang diperoleh tidak memenuhi satu kursi pun?
S : Sebenarnya tanggapan ibu-ibu bagus, tertarik dengan program-programnya tapi ya nggak tahulah mungkin kalah dalam serangan fajar,..he..he?!
M : Apakah ibu Sugiyem masih menemui warga khususnya ibu-ibu yang takut diajak bicara soal politik dan bagaimana caranya kalau ibu menemui masyarakat yang seperti itu?
S : Oh, ya! masih banyak dan saya terus berkomunikasi secara informmil, melalui kegiatan sehari-hari terus saya juga suka nyinggung soal pertai jadi secara perlahan warga itu mendapat informasi yang jelas tentang partai.
M : Kesulitan atau tantangan apa yang paling berat selama ibu aktif dalam kegiatan politik?
S : Yaitu,... warga itu minta jaminan tapi kontan, misalnya satu desa bersedia mendukung tetapi harus ada uang Rp. 3 jt. Karena waktu itu ada dana yang kita sanggupi dan hasilnya pun bagus, artinya warga itu kalau janjinya ditetapi masyarakat itu yang konsekuen. Terbukti desa tersebut 80 % lebih warganya memilih PBB. PBB mengadakan sosialisialisasi di dusun-dusun lebih dari 160 keluarga dana sekitar Rp. 120 jt, tetapi kenapa kok kalah dengan partai yang sama sekali tidak pernah mengadakan sosialisasi. Ternyata slidik sama slidik partai-partai itu pada saat menjelang hari H membagi uang satu jiwa Rp. 10.000.
M : Kenapa PBB tidak melakukan seperti itu? Bukankah dana 120 jt kalau dibagi 1 orang 10.000,- PBB akan mendapatpan 12.000 orang?
S : Sebelumnya kami kader-kader PBB juga pernah berfikir untuk melakukan serangan fajar, tetapi setelah didiskusikan tidak setujui dengan alasan cara-cara itu sebenanrnya sebuah pembodohan.
M : Pemilihan kali ini Golkar menang di Ngawai, seandainya pada lima tahun mendatang semua partai dapat bermain secara fair tidak menggunakan serangan fajar prediksi ibu bagaiaman?
S : saya yakin PBB akan mendapat suara cukup banyak karena sampai dengan saat ini kecamatan Ngrambe ini belum ada partai yang melakukan pendekatan model PBB. Saya yakin dan optimis, tetapi yaitu sistem politik kita kan masih sulit ditebak khan pak! Apa lagi masyarakat kita yang masih dilanda krisis ekonomi ini pokoknya siapa yang berani menebar uang banyak pasti akan mendapat simpati dari rakyati.
M : lalu bagaimana strategi ibu apakah akan menggalang dana sebanyak-banyaknya untuk modal serangan fajar atau tetap melakukan program-program pemberdayaan?
S : Oh,... saya tetap menggunakan pemberdayaan entah mendapat suara atau tidak karena tujuan saya bukan semata untuk mendapatkan kursi, tetapi bagaimana warga kami ini sejahtera. Program-pertanian yang kami lakukan dengan kawan-kawan kelompok tani ini pesertanya (animonya) makin hari makin bertambah?
M : Sebetulnya selain pengorganisasian program apa saja yang digeluti kelompok tani di sini?
S : Cukup banyak pak seperti; pertanian lestari yaitu pertanian yang mengurangi atau bahkan kalau bisa menghilangkan ketergantungan dengan pupuk dan obat-obatan buatan. Nanti bapak akan saya ajak keliling-keliling melihat beberapa kegiatan kami seperti menanam hortikultura dengan pupuk organik murni, kelompok pembuat pupuk dan pengendalian hama tikus melalui pelestartian burung hantu
M : Ya,... saya tadi sepanjang perjalanan melihat beberapa gupon yang kata mas Setiawan itu rumah burung hantu. Bisakah ibu menceritakan manfaat burung hantu itu?
S : Kalau yang banyak terlibat langsung di lapangan seperti pembuatan gupon pemantauan memang bapak-bapak, tetapi saya juga tidak mau kalah dengan bapak-bapak. Setiap pertemuan atau ngobrol dengan ibu-ibu tentang burung hantu itu saya ceritakan. Jadi penyebaran informasi tentang manfaat burung hantu cukup efektif dan ibu-ibu juga akan menyebarkan kepada ibu atau anggota keluarga yang lain sehingga informasi itu cukup efektif.
M : Apakah ibu sudah menikmati manfaat burung bagi keluarga ibu sendiri?
S : Oh,.. iya pak bahkan tetangga-tetangga sekitar saya ini saya melihat sendiri. Dulu sebelum ada program pelestarian burung hantu ini masyarakat sangat dipusingkan dengan serangan hama tikus. Sebagai contoh sawah saya satu kedok pada satu musim hanya panen 2 kuintal gabah, itu terjadi tahun 90-an, dua tahun belakangan panen mencapai setengah kwintal bahkan pernah lebih. Dengan merasakan bukti ini sebagaian besar sudah memahami manfaat burung hantu.
M : Apakah tidak pernah ada gangguan sama sekali seperti warga mencoba menangkap untuk dijual atau dikonsumsi?
S : Yaitulah, masih ada saja yang suka menangkap maka usaha kami pelestarian burung hantu dibuatkan perdes seperti sehingga pelarangannya ada dasar hukum yang kuat.
Setelah wawancara dirasa cukup, Mudik diajak melihat beberapa kegiatan usaha ekonomi keluarga seperti; memanfaatkan air limbah untuk memelihara ikan lele, pembuatan pupuk bokasi, pembuatan kerupuk gadung dan lahan pertanian lestari berupa kebun terung.
(Warno)
 



Copyright © 2006 by Forum Pengembangan Pembaharuan Desa
Powered by XOOPS & 7dana.com