Tuesday. June 3. 121930
  HOME Berita Desa Link Bulletin MUDIK Download Kontak Kami
Main Menu
Bulletin MUDIK
Kebijakan Pemerintah
Buku Terbitan FPPD
Tentang FPPD


 

MUDIK Edisi 2

| Salam Mudik | Editorial | Opini | Sajian Utama 1|
| Sajian Utama 2 | Sajian Utama 3 | Sajian Utama 4 | Kunjung Kampung | Tokoh Kita|
| Desa di Mata Seniman | Dialog Wong Cilik | Resensi Buku |

Dialog Wong Cilik

Kelangkaan BBM di Mata Wong Cilik

Listrik mampu merubah peradaban dunia menjadi terang, tetapi listrik yang hak kelolanya dipegang oleh PT. PLN, dimata rakyat kecil tidak seterang cahanya. Kita simak dialog “wong cilik” berikut:

Sukron : “ Seandainya bukan bulan Puasa aku sudah marah habis-habisan, tapi syukurlah saya masih bisa tahan diri”
Imron : “ Lho emangnya kenapa? Nggak kebagian makan saur?”
Sukron : “Bukan!, ini masalah kehidupan kita sehari-hari. Moso rekening listrikku bulan ini mencapai Rp. 278.800,00 nah terus aku mau bayar dari mana?!”
Imron : “ Yah udahlah dari pada puasamu nggak dapat pahala, putus saja tuh listrik jadi mulai bulan depan nggak bayar listrik!”
Sukron : ” Ah kamu ini, idemu nggak cerdas juga, itu bukan mengatasi masalah tapi menghilangkan masalah sekaligus menghilangkan aktifitas keluargaku. Tahu sendiri khan sebagaian besar alat-alatku pakai listrik”
Imron : “ Lho ya udah itu resikonya!” .
Sukron : “ Masalahnya bukan banyak sedikit-banyaknya saya harus bayar, ini lho lihat nich! (Sukron menunjukkan rekening bukti pembayaran listrik pada kolom PPJ 8 %) ini apa artinya? Saya harus bayar PPJ Rp.20.000,- lebih sementara jalan-jalan kita masih gelap, kalau toh ada lampu di pinggir jalan, itu karena kesadaran warga.”
Imron : “Lho iya ya?! Wah,... warga kita ada 450 kk semuanya pakai listrik, per kk kita bagi rata-rata sajalah Rp. 50.000,- berarti setiap bulan terkumpul uang PPJ 450 kk x Rp. 50.000,- x 8 % = Rp 1.800.000,- lha uang ini ke mana?
Sukron : “ Nah hayo nanti malam seluruh warga atau paling tidak tokoh-tokoh ngumpul di gerdu kita bahas tentang ini”.

Malam berikutnya gardu yang biasanya didatangi 5 – 7 peronda dan diterangi neon 10 watt, malam itu berubah menjadi gegap gempita dan penerangan-nyapun diganti menjadi lampu mercury 100 watt. Sukron yang datang terlambat menjadi bingung melihat perubahan pos ronda itu.

Imron : “Apa nanti nggak disalahkan PLN kita nyanthol strum langsung?”
Sukri : “Pokoknya saya yang tanggungjawab, saya sudah membuat surat pengajuan penerangan jalan ke PLN saya tembuskan ke Bupati dan DPR”
Sukron : “Tapi kenapa sekarang sudah disambung? tidak menunggu persetujuan dari PLN?”

Beberapa warga berdiri sambil unjuk tangan dan menjelaskan; “Pokoknya sekarang pasang kalau tidak, apakah pencurian kambing yang telah makan korban 6 ekor selama bulan ini pak Sukron mau tanggungjawab?”. Mendapat pertanyaan warga yang mulai emosi itu Sukron pun terdiam. Dalam hati dia pertanya: “ Yah,… kalau PEMDA mau adil mungkin nggak akan terjadi seperti ini!? yang namanya lampu taman, lampu hias, lampu penerangan jalan di alun-alun kota dsk begitu boros, terang benderang, sementara desa-desa yang nyata-nyata kontribusi PPJ cukup banyak nggak dapat pelayan jalan sama sekali. Sebetulnya Pajak Penerangan Jalan itu Untuk Jalan yang mana Sih???”
( Warno )

 



Copyright © 2006 by Forum Pengembangan Pembaharuan Desa
Powered by XOOPS & 7dana.com