Monday. September 19. 122005
  HOME Berita Desa Link Bulletin MUDIK Download Kontak Kami
Main Menu
Bulletin MUDIK
Kebijakan Pemerintah
Buku Terbitan FPPD
Tentang FPPD


 

MUDIK Edisi 1

| Salam Mudik | Editorial | Opini 1 | Opini 2|
| Sajian Utama 1 | Sajian Utama 2 | Kunjung Kampung | Tokoh Kita|
| Dialog Wong Cilik | Resensi Buku |

Tokoh Kita

Asosiasi Kepala Desa Berhadap-hadapan dengan Pemerintah Kabupaten

Tokoh Kita: Algas AR

Mudik, dari kota kembali ke desa untuk membangun bangsa. Kalimat ini tampaknya tepat disandang oleh tokoh MUDIK edisi perdana ini. Algas AR, adalah aktivis yang telah kenyang makan asam garam belantara media baik cetak maupun elektronik. Dikatakan demikian karena pengalamannya sebagai wartawan media cetak seperti; Suara Nusa, Bali Pos, Lombok Pos, Republika dan berbagai Koran telah dialaminya. Sementara wartawan di dunia siaran elektronik ayah dari 4 anak ini juga termasuk senior. Telivisi Pendidikan Indonesia (TPI) menggandengnya selama 9 tahun dan sampai dengan sekarang masih aktif sebagai reportif Lativi. Meskipun cukup eksis didunia pewartaan dan tentu saja sangat akrab dengan gemerlapnya kemajuan teknologi metropolis, tidak membuatnya lupa akan cita-cita yang telah terpatri dalam dadanya yaitu membangun sumber daya insani (SDI).

Desa Pendua, Kecamatan Kayangan Kabupaten Lombok Barat Bagian Utara NTB kini menjadi terminal pengabdiannya entah sampai kapan. Akhir tahun 2002 dosen Komunikasi Penyiaran STAIN Mataram ini terpilih sebagai kepala desa dimana ia dilahirkan. Melalui pemi-lihan yang dia anggap sangat demokratis akhir-nya warga mempercayai untuk menjadi kepala desa. Momentum ini tidak disia-siakan sebagai proses perwujudan cita-citanya. Memikul amanat pende-ritaan warga desa sejum-lah 1.840 jiwa, tidak me-ngurangi hobby berko-munikasi dan berinteraksi dengan berbagai pihak. Justru dengan statusnya sebagai Kepala Desa peluang untuk dapat masuk dan terlibat aktif dalam sebuah asosiasi Kepala Desa yang bernama AKAD (Asosiasi Kepala Desa) telah terbuka. AKAD beranggotakan 133 Kepala Desa se Kabupaten Lombok Barat Bagian Utara dan melalui proses musyawarah akhirnya semua menyepakati Bp. Algas AR sebagai ketuanya.

AKAD sebagai wadah pemersatu visi misi kepala desa memberikan pelajaran baru bagi tokoh kita ini. Pengalaman positif yang dapat diambil olehnya adalah, AKAD benar-benar menjadi harapan warga sebagai wadah penyaluran aspirasi dan bagi pemerintahan kabupaten, AKAD merupakan mitra yang mampu menjembatani antara kebijakan pemerintahan dengan aspirasi masyarakat. AKAD juga efektif sebagai fungsi kontrol terhadap program-program pemerintahan kabupaten. Sudah cukup banyak kebijakan pemerintahan yang harus ditunda karena menurut AKAD tidak aspiratif. Salah satu contoh proyek pembelian mesin ketik dan bantuan sejumlah 10 juta rupiah untuk desa yang sudah direalisasikan harus ditarik kembali oleh kabupaten karena menurut anggota AKAD mesin ketik bukan kebutuhan desa. Contoh penolakan program tersebut bukan merupakan tujuan utama AKAD dan AKAD pun tidak bermaksud sebagai oposisi kebupaten, tetapi program apapun yang tidak partisipatif AKAD berkewajiban mempermasalahkannya. Proses belajar melalui kunjung-mengunjungi, silaturrahmi antar anggota dan diskusi-diskusi informal selama ini jauh lebih bermakna dalam memperjuangkan visi misi AKAD.

Guna memberi gambaran kepada kita bagaimana kiprah Bapak Algas AR (A), tim Mudik (M)mewa-wancarai di hotel Oranjje, Denpasar, Bali, yang mana pada saat itu sedang terlibat aktif dalam loka-karya “Memperkuat Desentralisasi Desa” yang diselenggarakan oleh FPPD bekerjasama dengan VECO Indonesia sebagai berikut:

Wawancara pun diakhiri dengan jabat tangan dan ucapan terimakasih.(Warno)
M : Sebenarnya apa obsesi atau visi dan misi Pak Algas kok mau menjadi Kepala Desa ?
A : Sejak kecil saya mempunyai cita-cita ingin membangun masyarakat tempat tinggal saya. Untuk itu sejak tahun 1968 saya merantau keseluruh pulau Lombok, mulai dari Lombok Timur sampai Lombok Barat selain sambil sekolah saya juga sambil berdagang untuk menambah biaya sekolah saya, karena kalau mengandalkan dari keluarga tidak cukup.
M :Seperti apa sih Desa Pak Algas terutama kondisi masyarakat ?
A :Awalnya desa saya adalah bagian dari desa induk atau desa sesoat, dimana sarana dan prasarana seperti jalan tidak pernah di sentuh oleh pembangunan baik dari Kabupaten maupun dari desa saya. Pernah ketika kita akan membuat jembatan tapi tidak mampu akhirnya kita buat semampunya dengan gotong royong. Untuk SDM nya tapi kalau saya biasa menyebut dengan SDI (Sumber Daya Insani) saya ingin bahwa kawan-kawan saya di kampung SDInya harus tinggi, meskipun tinggal di kampung kecil dan pendidikan formal masih sedikit bisa ditempuh dengan pendidikan non formal yakni dengan cara pertemuan-pertemuan, berdiskusi lepas apapun bentuk-bentuk dan tema yang beragam.
M :Sejak kapan menjadi Kepala Desa ?
A :Sejak tahun 2002 akhir saya menjadi kepala desa Pendua, Kahyangan, Lombok Barat Bagian Utara, Nusa Tenggara Barat.
M :Perubahan apa yang terjadi sejak menjabat Kepala Desa hingga saat ini ?
A :Dilihat dari SDInya ada perkembangan dari para remajanya (baik remaja masjid atau pemudanya) kalau dulu tidak berani mengemukakan pendapat dalam rapat-rapat atau pertemuan-pertemuan sekarang mereka mampu. Kalau dari segi perkembangan fisik sekedar untuk pelipur-lara ada, tapi yang diutamakan dan diharapkan adalah pisah dengan desa induk, dan supaya punya kantor sendiri yang lebih baik dan beda dari yang lain.
M :Bedanya dimana ?
A :Saya cerita dulu ya, kantor saya buat dua lantai (kantor induk desa) dengan hanya 1840 jiwa, pembangunannya sebagian besar dari swadaya, oleh karenanya setiap KK saya tarik Rp. 800 ribu untuk pembangunan kantor desa, tapi kondisi riilnya kita jumlah yang mereka kumpulkan rata-rata baru Rp. 250 ribu. Dan sekarang kondisi bangunan sudah 99% untuk tahap pertama, karena masih ada tahap kedua di bagian belakang. Untuk sisanya ini kita coba cari terobosan dari luar. Bahkan kita pernah mengadakan kegiatan besar yang Gubernur pun tidak pernah kenal kampung saya akhirnya juga bisa datang.
M :Sekarang hubungannya dengan AKAD, Kalau dilihat dari prestasi apa motivasi aktif di AKAD?
A :Kira-kira misi saya kedepan dan yang sudah saya lakukan, bahwa kita ingin membangun daerah kita secara kolektif, baik visi misi pembangunan masyarakat desa, serta setiap pendapat kawan-kawan kepala desa harus kolektif. Sehingga untuk menyatukan ini kita harus punya wadah, dan dibentuklah AKAD (Assosiasi Kepala Desa) pada akhir tahun 2002.
M :Presatasi yang paling menonjol AKAD ?
A :Untuk prestasi yang paling bombastis adalah sekarang perhatian pemerintah terhadap desa sudah cukup tinggi dibandingkan sebelumnya, termasuk kepada aparat desanya.
M :Terutama dalam hal aspek apa, apakah visi atau pelayanannya ?
A :Kedua-duanya, bahkan sekarang Pemda ketika akan membuat suatu kebijakan selalu minta koordinasi dengan kita dulu. Artinya terhadap rancangan peraturan daerah kita akan selalu dilibatkan. Karena sebelumnya kami sudah bilang, kalau AKAD tidak dilibatkan bagaimana anda bisa memutuskan persoalan yang berkaitan dengan desa.
M :Apakah seluruh Kepala Desa Lombok Barat menjadi anggota AKAD ?
A :Seluruh Lombok barat bagian Utara ikut semua yang jumlahnya 133 Kepala Desa, dan 10 lagi pengembangan dari luar juga telah menjadi anggota AKAD
M :Bagaimana suka dukanya aktif di AKAD ?
A :Kalau dilihat dari susa-hnya memang ada beberapa kawan kepala desa yang pola pikirnya masih lama. Inginnya hidup dengan rutinitas. Pagi datang, jam kantor pulang dan itu sudah menjadi sebuah kebanggaan mereka, susah untuk di selesaikan karena menyangkut pribadi orang.
M :Terus kaitannya dengan persoalan diatas, peran Bapak secara pribadi apa ?
A :Terus terang Lombok Barat itu memiliki jarak rentang dari utara ke selatan kalau kita pakai mobil itu 4-5 jam baru selesai. Secara pribadipun saya sangat sering mendatangi kawan-kawan kepelosok desa untuk berdiskusi, bahkan ketika kita mengambil kebijakan spektakuler menolak bantuan pemda misalnya berupa mesin ketik, bantuan dana bank Rp. 10 juta, karena tidak sesuai dengan kebutuhan kita, bahkan ada kawan-kawan yang tidak mengerti maksud penolakan kita datangi satu persatu kerumah maupun kantornya secara kekeluargaan meskipun sempat marah juga.. nah sekarang sepertinya sudah terkondisikan.
M :Tentang FPPD yang berkecimpung tentang isu pembaharuan desa apa saran Bapak ?
A :Kalau menurut saya FPPD sudah cukup bagus, karena dalam kegiatannya mengikutkan banyak komponen terutama pemerintah, karena tidak ada gunannya kalau kita berteriak-teriak tapi pemerintah tidak diajak, misalkan saya dari Lombok Barat diajak, tapi pemerintah Lombok Barat tidak dilibatkankan susah untuk melakukan perubahan, karena yang mempunyai kebijakan untuk diajak melakukan perubahan tidak ada.
M :Apakah FPPD mempunyai kemampuan untuk melibatkan mereka dalam forum-forum seperti ini ?
A :Saya kira asal diundang masyarakat daerah itu mau-mau saja, hanya kadang-kadang mereka dibatasi oleh jalur birokrasi
Wawancara pun diakhiri dengan jabat tangan dan ucapan terimakasih.(Warno)
 



Copyright © 2006 by Forum Pengembangan Pembaharuan Desa
Powered by XOOPS & 7dana.com