FPPD - Forum Pengembangan Pembaharuan Desa

Memetakan dan Menentukan Jenis Usaha BUM Kampung (BUMKam)

oleh: Farid Hadi – Ketua pelaksana FPPD 

BUMKam merujuk kepada UU Desa yang menjelaskan pembentukan dan pengelolaan BUMKam. Di Mahakam Ulu belum semua Kampung sudah memiliki BUMKam. Tatacara pendirian BUMKam  secara legal dan administratiftidak sulit, yang terpenting adalah adanya musyarawarah mufakat antara perangkat dengan warga desa melalui Musyawarah Kampung. Hal yang penting untuk dibahas adalah, jenis kegiatan apa yang akan dioperasikan dalam BUMKam, termasuk tata kelola organisasinya. Secara nasional, jumlah BUMDesa sudah hampir mencapai 30.000, yang berjalan dan memiliki manfaat belum mencapai 1.000 unit
Dalam memilih jenis usaha BUMKam, adalah kegiatan usaha yang ditujukan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Dua hal yang harus dipikirkan adalah apa yang menjadi kebutuhan masyarakat dan apakah potensi desa yang bisa dikembangkan. Unit usaha mempertemukan kebutuhan masyarakat dengan potensi yang dimiliki kampung.Banyak BUMKam yang dibentuk, tetapi masih banyak yang tidak memiliki kegiatan, maka perlu dilakukan kajian potensi dan kelayakan usaha.BUMKam tidak hanya berfokus pada keuntungan secara material, namun juga aspek kebermanfaatan.

Peta aset ekonomi kampung bergerak mulai dari potensi dasar (Pertanian, perkebunan, sumber daya alam, pelaku, dsb), diteruskan ke pasar atau melalui proses produksi terlebih dahulu.Untuk menghasilkan BUMKam yang menguntungkan dan bermanfaat, sebaiknya dilakukan proses produksi terlebih dahulu, guna menambah nilai ekonomi barang.Untuk menjamin pasar, pemerintah seharusnya mampu melakukan proteksi, terutama pemerintah daerah.

Terdapat empat peta sebelum menentukan BUM Kampung,yaitu peta ekonomi, peta sumber daya alam, peta layanan dasar,dan peta aktor. Untuk meningkatkan kesejahteraan, terdapat dua tips,yaitu 1) putar uang di kampung tersebut secara terus menerus untuk kegiatan ekonomi dan ekonomi solidaritas (saling membantu dalam kegiatan transaksi), 2) mendatangkan uang masuk ke desa, contoh pariwisata, kuliner, dll
Pentagonal aset kampung , antara lain :SD Manusia (pengetahuan, keterampilan , dll), SD Alam (tanah, kebun, air, hutan, dsb), Modal sosial (kerukunan, kepedulian, dsb), Modal Finansial (DD, ADD, Tabungan, PADes, iuran warga), dan SDFisik berupa tempat tinggal, infrastruktur, sarana prasarana.

Apabila kondisi BUMKam sudah ada, tetapi tidak berkembang, hal yang bisa dilakukan dengan  mengidentifikasi aset dan jenis usaha di desa/kampung, dan kenali peluang atas aset desa/kampung. Apabila ada aset alam tetapi tidak dikelola, hal yang bisa dilakukan antara lain belajar memulai usaha, meraih modal usaha, dan menganalisis peluang usaha. Apabila pemkab dan warga belum mengenal fungsi dan peran BUMKam, hal yang bisa dilakukan dengan mengenalkan BUMKam yang mendukung peluang usaha warga, sekaligus warga menginisiasi pembentukan BUMKam. Apabila warga tidak memahami hubungan BUMKam dengan Pemkab dan  Warga, yang bisa dilakukan adalah melakukan sinergi Pemkab dengan BUMKam, dan memahami kembali UU Desa sebagai pondasi Kampung berdaya secara ekonomi. Apabila warga tidak mengenal potensi kampung, maka kita bisa memetakan aset ekonomi terlebih dahulu. Apabila kampung sudah memiliki keinginan untuk merintis BUMKam, maka kita harus memahami cara dan proses mendirikan BUMKam, memulai mendirikan BUMKam dan menunjuk para stakeholder. 

Ada pertanyaan yang berkaitan dengan legalitas BUM Desa/Kampung, apakah harus dari petinggi Kampung atau otoritas yang lebih tinggi, seperti camat dll ?Untuk pengesahan BUMKam dan pengurusnya, legalitas dari kepala desa, karena desa yang mengeluarkan peraturan desa. 

BUMKamsudah dibentuk, namun belum dilakukan identifikasi potensi kampung belum diterapkan terlebih dahulu, sehingga pengurus masih bingung menentukan kegiatannya. Setelah dilakukan pemetaan, teridentifikasi 3 jenis yaitu material, wisata, dan simpan pinjam. Sebenarnya warga tertarik dengan wisata, tetapi terkendala lingkungan, masyarakat masih teguh untuk bertani dan berladang berpindah-pindah. Untuk mengatasinya dengan membuat siklus tanaman, mengajak warga untuk mengolah alam dan potensi desanya. Jika ingin mengembangkan pariwisata jangan terburu-buru, ajak serta pemerintah daerah atau  membuat event yang mampu menarik warga untuk datang, seperti acara kultural, pentas musik dengan mengundang artis lokal, dsb dan membuat rumah warga menjadi homestay sehingga mendatangkan pendapatan lebih bagi warga. 

kirim ke teman | versi cetak

 

Kamis, 11 April 2019 16:30:20 - oleh : admin

Informasi "" Lainnya